Langsung ke konten utama

Melipat Jarak

Bagaimana bisa aku melipat jarak? Jika bayangnya saja tak mampu ku gapai."

Gadis itu menutup buku hariannya dan bergegas merapikan tempat tidur. 


Pagi sudah tiba. Tapi langit tetap saja gelap.
Mungkin hari ini hujan akan turun.

Senin pagi ini, jalanan masih terlihat lengang.
Barangkali, orang-orang masih terlelap dalam tidur.
Atau, terlena oleh weekend? Entahlah.

Langkah kecil gadis itu terhenti di sebuah halte,
"Nenek sedang apa pagi-pagi disini?" Ujarnya kepada seorang nenek tua yang duduk sendirian di bangku halte.
"Apa kamu mau mendengar ceritaku sebentar?" jawab nenek tua itu dengan senyum ramahnya.
Gadis kecil itu pun duduk disamping nenek tua, lalu nenek itu pun mulai bercerita.
"Dua bulan yang lalu, anakku menelpon dari kota, ia memberi kabar bahwa Senin pagi akan tiba di halte ini. Tapi, sampai hari ini ia tak kunjung ada." 
Gadis kecil itu masih diam menunggu kelanjutan cerita nenek.
"Dia memang tidak akan pernah sampai di tempat ini. Mobil yang ia tumpangi dari kota itu mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu kabarnya, yang jelas media masa itu memberi kabar bahwa mobil itu hancur, Dan hampir seluruh penumpangnya meninggal ditempat."
Nenek itu mengusap air matanya,
"Sejak hari itu, setiap Senin pagi aku kemari. Karena disini, jarak kami seperti dekat."
Gadis kecil itu memeluk nenek tua. Keheningan pun terjadi. 

Hingga nenek kembali bertanya,
"Kamu tahu bagaimana cara menyampaikan pesan kepada orang yang sudah tidak ada?"
"Bagaimana nek?" Ujar gadis itu.
"Berdoa nak. Sampaikan segalanya kepada Sang Pemberi Hidup. Aku sering menitipkan pesan kepadaNYA."
"Apa isi pesannya nek?"
Nenek itu tersenyum, "Semoga Allah mau memaafkan setiap kesalahannya dan menerima setiap kebaikan yang dilakukannya."
Gadis itu terdiam.

"Nak, hari sudah menunjukkan pukul 07.00, sepertinya teman-temanmu sudah sampai di sekolah."
Gadis kecil itu menatap arlojinya dan tersenyum.
"Baiklah, Terima kasih nek, sudah berbagi cerita kepadaku. Semoga Allah selalu mendekatkan jarak antara nenek dan anak nenek."
Lalu gadis itu berpamitan. Lambaian tangan pun mengiringi kepergian gadis itu menuju ke sekolah.



Sesampainya di kelas, ia mengeluarkan buku catatannya, lalu menulis :

Bagaimana caranya melipat jarak?
Ternyata, jawaban terbaiknya adalah melalui doa.
Doakan ia baik-baik saja. Doakan ia selalu sehat.
Dan yang terpenting, minta pada Allah untuk selalu menjaganya dimanapun ia berada.








Dunia ini begitu luas.
Tapi lantunan doa jauh lebih luas.
Seakan aku bisa menggenggam tangannya, 
Meski tidak melihat matanya.





Komentar